Instructions

Recomended

Connect With Us

Blogger Tricks

GetRank - Webmaster and Seo Tools

video motivasi

Koleksi Terbaru Kami

Sukses Menurut Pandangan Khonghucu




oleh : Dedy Hidayat

Setiap manusia diciptakan oleh Tian (Tuhan) sama dan mempunyai sifat dasar (Watak Sejati) yang baik serta difitrahkan untuk hidup lurus. Kehidupan yang tidak lepas dari Im (negatif) dan Yang (posifit) pada akhirnya menentukan sikap dan perilaku bahkan nasib orang itu.

Kongtongcu bertanya, "Semuanya ialah manusia, mengapakah ada yang menjadi orang besar dan ada yang menjadi orang kecil?"
Bingcu menjawab, "Orang yang menurutkan bagian dirinya yang besar akan menjadi orang besar, yang hanya menurutkan bagian dirinya yang kecil akan menjadi orang kecil."
(Bingcu, VIA, 15)

Karena itulah sukses dalam hidup seorang Confusianis ditentukan oleh dirinya sendiri.
Sesungguhnya untuk memperolah Kegemilangan itu hanya tergantung pada usaha orang itu sendiri.
(Thai Hak / Ajaran Besar, I, 4)

Dengan demikian, tempatilah diri kita untuk menjadi orang yang sukses.

2. "Ada sebuah nyanyian anak-anak yang berbunyi, 'Sungai Chong-long di kala jernih, boleh untuk mencuci tali topiku. Sungai Chong-long di kala keruh, boleh untuk mencuci kakiku."
3. "Khongcu bersabda: Murid-muridKu, dengarlah! Di kala jernih untuk mencuci tali topi, di kala keruh untuk mencuci kaki. Perbedaan ini, air itu sendiri membuatnya.'
(Bingcu, IVA, 8, 2-3)



Langkah-langkah Menuju Sukses

Langkah-langkah menuju sukses dapat kita lihat dari nasehat-nasehat yang diberikan oleh Guru kita, baik selama hidupNya maupun melalui penerus ajaranNya, Bingcu:

1. Membina diri

"Maka seorang Kuncu tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina diri, ....."
(Tiong Yong  / Tengah Sempurna, XIX, 7)

a. Belajar

Nabi bersabda, "Suka belajar itu mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan;......"
(Tiong Yong / Tengah Sempurna, XIX, 10)

b. Berusaha memiliki kecakapan / ketrampilan

Nabi bersabda, "....., berkhawatirlah kalau tidak mempunyai kecakapan untuk suatu
kedudukan; ,,,,,, tetapi berusahalah agar mempunyai kecakapan yang patut diketahui."
(Lun Gi / Sabda Suci, IV, 14)


2. Mempunyai rencana / target

"Di dalam tiap perkara bila ada rencana yang pasti, niscaya dapat berhasil; bila tanpa rencana yang pasti, niscaya gagal. .....".
(Tiong Yong / Tengah Sempurna, XIX, 16)


3. Mempersiapkan diri

Nabi bersabda, "Bila orang tidak mau berpikir tentang kemungkinan yang masih jauh, kesusahan itu tentu sudah berada di dekatnya."
(Lun Gi / Sabda Suci, XV, 12)


4. Memulai dari awal setahap demi setahap

Jalan Suci seorang Kuncu itu seumpama pergi ke tempat jauh, harus dimulai dari dekat; seumpama mendaki ke tempat tinggi, harus dimulai dari bawah.
(Tiong Yong  / Tengah Sempurna, XIV, 1)


5. Konsisten

Bingcu berkata kepada Koocu, "Lihatlah jalan kecil bekas diinjak orang di pegunungan, kalau selalu dilalui akan dapat menjadi jalan besar, tetapi, kalau tidak terus dilalui akan kembali tertutup oleh alang-alang. ....."
(Bingcu, VIIB, 21)

6. Mendahulukan kewajiban

Nabi bersabda, "Sungguh pertanyaan yang baik, Mendahulukan pengabdian dan membelakangi hasil; bukankah ini sikap yang menjunjung Kebajikan? ....."
(Lun Gi / Sabda Suci, XII, 21, 2)


7. Memanfaatkan setiap peluang

Cu-khong bertanya, "Kalau seseorang mempunyai sebuah batu giok yang indah, sebaiknya disimpan di dalam almari saja atau lebih baik dijual?"
2. Nabi menjawab, "Dijual! Dijual! Tetapi nantikanlah harga yang layak."
(Lun  Gi / Sabda Suci, IX, 13, 1-2)


8. Berhemat dan rajin

Mengurus hartapun ada jalannya yang besar, bila penghasilan lebih besar daripada pemakaian dan bekerja setangkas mungkin sambil berhemat, niscaya harta benda itu akan terpelihara.
(Thai Hak / Ajaran Besar, X, 19)


9. Berserah kepada Tian (Tuhan)

..... Akan hasilnya berserah kepada Tuhan. ......"
(Bingcu, IB, 14, 3)



Menghadapi Hambatan-hambatan

Kehidupan serba tidak pasti, hanya kematian yang pasti akan datang. Demikian juga dengan jalan hidup dan jalan kesuksesan kita pasti akan mengalami hambatan-hambatan. Untuk menghadapinya agar kita tidak putus asa di bawah ini adalah kiat-kiat yang harus kita jalani:

1. Menyadari bahwa setiap orang pasti mengalami hambatan-hambatan dalam hidupnya

Tatkala Gan Yan meninggal dunia, Nabi menangis sangat sedih.
(Lun Gi / Sabda Suci, XI,10, 1)

2. Jangan mudah menyerah

Bingcu berkata, "Usaha seseorang itu dapat diumpamakan seperti orang membuat sumur. Meski sumur itu sudah digali sampai 9 depa, kalau belum juga mencapai sumbernya, pekerjaan itu sia-sia belaka."
(Bingcu, VIIA, 29)


3. Melihat ke dalam diri sendiri

Nabi bersabda, " Hal memanah itu seperti sikap seorang Kuncu. Bila memanahnya meleset dari bulan-bulannya, si pemanah berbalik mencari  sebab-sebab kegagalannya di dalam diri sendiri.
(Tiong Yong  / Tengah Sempurna, XIII - 5)


4. Memperbaiki diri sendiri

"Bila bersalah, janganlah takut memperbaiki."
(Lun Gi / Sabda Suci, I, 8, 4)


5. Memperbaharui diri

....., "Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya!"
(Thai Hak / Ajaran Besar, II, 1)


6. Yakin dan percaya Tian memberkati

"Demikianlah Tuhan Yang Maha Esa menjadikan segenap wujud, masing- masing dibantu sesuai dengan sifatnya. Kepada pohon yang bersemi dibantu tumbuh, sementara kepada yang condong dibantu roboh."
(Tiong Yong  /  Tengah Sempurna, XVI, 3)



Ketika Berada Dalam Kesuksesan

Seringkali ketika berada dalam kesuksesan seseorang kehilangan jati dirinya, untuk menghindarinya, bentengilah diri kita dengan kata-kata bijak Guru kita:

1. Ingatlah bahwa kebajikan di atas segalanya

Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan itulah yang ujung.
(Thai Hak / Ajaran Besar, X, 7)


2. Tidak berlaku sombong

Nabi bersabda," Miskin tanpa menggerutu itu sukar. Kaya tanpa merasa sombong itu mudah."
(Lun Gi / Sabda Suci, XIV, 10)


3. Menjaga diri agar tetap di jalan yang benar

Di kala kaya dan mulia, ia berbuat sebagai layaknya seorang kaya dan mulia; ..... Maka seorang Kuncu di dalam keadaan bagaimanapun, selalu berhasil menjaga dirinya.
(Tiong Yong  / Tengah Sempurna, XIII, 2)


4. Ingat akan pendukung & membantu orang lain

"Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lainpun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju".
(Lun Gi / Sabda Suci VI, 30 - 3)


5. Merawat

"Maka kalau dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan berkembang, sebaliknya kalau tidak dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan rusak.".
(Bingcu ,VIA, 8, 3)

Nilai Seikat Kembang




Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, "Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, " Saya Ny . Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk
berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny.Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

Lilih Harapan

lilin3.jpg (624×446)

Ada 4 lilin yang sedang menyala, sedikit demi sedikit meleleh. Dalam kesunyian terdengar percakapan mereka :
Lilin 1: “Aku adalah damai, tapi manusia tidak mengajakku lagi, aku tak lagi berguna, lebih baik aku matikan saja diriku”. Lalu sang lilin “mematikan dirinya”.
Lilin 2: “Aku adalah iman, aku juga tidak berguna lagi bagi manusia, mereka tidak pernah mengajakku lagi, lebih baik aku tidak menyala saja! Lalu “tiupan angin” mematikan lilin 2.
Lilin 3: “Aku adalah cinta, tapi aku juga tak berguna bagi manusia, karena mereka selalu saling membenci, bahkan membenci orang yang dicintainya atau yang mencintainya; jadi lebih baik aku matikan saja diriku. Maka lilin 3 pun mati.
Tiba-tiba seorang anak kecil masuk kedalam ruangan itu. Karena “menghadapi kegelapan” anak itu berteriak, “Kenapa kalian mati!? Aku takut kegelapan,” katanya sambil menangis tersedu-sedu.
Lalu lilin 4 berkata: “Anak kecil, jangan menangis, selama masih ada aku! Mari.. kita nyalakan ke3 lilin itu.”
Lalu sang anak mengambil lilin 4. Dengan lilin itu dinyalakannya ketiga lilin yang sudah mati, sehingga ruangan menjadi terang kembali, lebih terang dari sebelumnya.
Ternyata lilin 4 itu adalah H A R A P A N.

Belajar dari Kisah Sepatu

Penulis : Yasa Paramita Singgih

Artikel saya ini berisi cara tentang bagaimana menjadi pribadi yang berguna bagi sesama dan dapat memaksimalkan potensi dan bakat yang ada di dalam diri. Untuk itu, mari kita simak cerita di bawah ini.

Suatu hari di beranda sebuah rumah, tepatnya di rak sepatu yang terisi dengan beberapa pasang sepatu terjadilah ribut-ribut antara dua pasang sepatu. Sepasang sepatu yang pertama disebut dengan Sepatu A dan sepatu yang kedua disebut dengan Sepatu B.

Saat itu, sepatu A baru saja dipakai untuk jalan-jalan oleh tuannya. Keadaan sepatu A sudah kotor dan jahitan sepatunya sudah sedikit terbuka. Sedangkan sepatu B masih bersih dan kinclong karena memang sepatu B ini hampir tidak pernah dipakai oleh tuannya.

"Yah, kasihan sekali kamu A, hampir tiap hari dipakai oleh tuan. Kayak aku dong, hidup santai - santai aja dan selalu bisa beristirahat di rak," kata Sepatu B meledek Sepatu A.

"Lho?! Dasar kamu ini, lebih baik aku dipakai terus daripada nganggur kayak kamu," sahut si Sepatu A membalas.

"Lihat, gara-gara dipakai terus badan kamu sudah mulai terlihat tidak indah lagi. Kamu pasti iri sama badanku yang masih mulus ini," kata Sepatu B yang masih ngotot.

"Lebih baik aku rusak, hancur karena terpakai dan bermanfaat bagi manusia dibandingkan aku harus rusak karena hancur sendiri di sebuah rak sepatu karena terkena proses alami menjadi debu. Aku tidak mau hancur sia-sia seperti itu!"

"Apa maksudmu?!," Sepatu B mulai marah.

"Kita adalah sepatu. Apabila tidak dipakai, maka akan menjadi rapuh dan hancur. Jadi tidak seharusnya kamu merasa santai dan senang karena tidak pernah dipakai. Harusnya kamu was-was, karena potensi dan bakatmu untuk melindungi kaki manusia tidak terpakai."

Sepatu B pun termenung dan tidak dapat berkomentar lagi. Ia memikirkan bagaimana nasibnya sekarang.

"Sekarang kita lihat, aku mungkin sudah mulai tidak indah. Kotor dan jahitan sudah mulai lepas. Tapi aku akan bertahan lebih lama darimu, karena aku sudah sering terlatih untuk menjadi lentur dan kuat. Aku terbiasa dalam segala keadaan. Makanya aku menjadi sepatu yang kuat walaupun tidak nampak begitu indah dari luar," Sepatu A kembali menjelaskan.

"Maafkan aku ya A, karena telah mengejekmu. Aku harap dapat bermanfaat di hari depan. Terima kasih ya telah menyadarkanku," jawab Sepatu B yang telah sadar.


Teman-teman, cerita tadi sebenarnya dapat kita gambarkan sebagai cerita tentang diri kita masing-masing. Sepatu B itu kita, dan Sepatu A adalah orangtua / guru / teman kita yang sering kali mengingatkan kita.

Kita dapat belajar dari cerita tadi bahwa kita terlahir sebagai manusia adalah itu adalah suatu KARUNIA YANG BAIK. Karena di dunia manusia inilah kita dapat sebanyak-banyaknya menanam bibit kebajikan dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagai manusia, kita semua memiliki potensi dan bakat masing-masing, tapi sering kali kita sia-siakan begitu saja dan tidak mau mengasahnya. Kita itu sering kali hanya mau ENAK-ENAKAN dan tidak mau merasakan PAHIT terlebih dahulu. Padahal hal itulah yg memperkuat mental kita.

Potensi dan bakat itu harus diasah dan dipakai. Apabila tidak, akan terbuang sia-sia begitu saja. Janganlah hanya berdiam diri, tapi galilah potensi dan bakat yang ada di dalam diri kita. Walaupun itu harus terluka dan gagal. Itu akan menjadi modal kita untuk sukses dan bermanfaat bagi orang lain.

Intinya adalah jangan takut untuk menggali potensi dan bakat kita. Asah dan gunakan baik-baik agar tidak menjadi sia-sia dan hilang begitu saja.

Dari cerita di atas juga kita belajar dari sikap Sepatu A, yaitu bijaksana. Sudahkah kita bijaksana hari ini? Sepatu A menanggapi ledekan Sepatu B dengan sikap tenang tanpa menggunakan nada tinggi. Begitulah harusnya manusia yang bijak menanggapi segala sesuatu dengan tenang dan kepala dingin.

Begitu juga dengan Sepatu A yang mau mengingatkan Sepatu B. Itulah fungsi manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Yaitu saling mengingatkan kepada teman untuk tetap berada di rel dan jalur yang benar.

Teman-teman, ingat juga kata Pak Andrie Wongso, "Success is My Right!"

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah baca. Semoga menginspirasi teman-teman semua.

Tulisan Di Atas Pasir

Penulis : Andrie Wongso

Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara mereka,salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah katapun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir: "Hari ini temanku telah memukul aku !!!"

Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, ya ..dasar-anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama. Saat lari berkejaran, karena tidak berhati-hati, Tiba-tiba, anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lobang perangkap yang dipakai menangkap binatang "Aduh.... Tolong....Tolong!" ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lobang dan berseru "Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu". Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon "Teman, Aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan ku lemparkan ke kamu, tangkap danikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang".

Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itupun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, "Terima kasih, sobat!". Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu "Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku".

Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan, "Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?" Anak yang di pukul itu menjawab sabar, "Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak.

75610_dua_anak_kecil_bermain_di_dasar_kali_yang_telah_kering_di_china_300_225.jpg (300×225)

Tapi ketika kamumenyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat".

Pembaca yang budiman, 

Hidup dengan memikul beban kebencian, kemarahan dan dendam, sungguh melelahkan. Apalagi bila orang yang kita benci itu tidak sengaja melakukan bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti hati kita, sungguh ketidakbahagiaan yang sia-sia.

Memang benar.... bila setiap kesalahan orang kepada kita, kita tuliskan di atas pasir, bahkan di udara, segera berlalu bersama tiupan angin, sehingga kita tidak perlu kehilangan setiap kesempatan untuk berbahagia. 

Sebaliknya.. tidak melupakan orang yang pernah menolong kita, seperti tulisan yang terukir di batu karang. Yang tidak akan pernah hilang untuk kita kenang selamanya.


Salam sukses luar biasa!!

Andrie Wongso

Langkah dalam Kehidupan

Penulis : Andrie Wongso

Alkisah, suatu hari seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Setiba di bandara, sang profesor dijemput oleh seorang prajurit muda yang ditugaskan untuk melayani kebutuhannya selama kunjungannya di sana.

Setelah berjumpa dan saling memperkenalkan diri, mereka pun menuju ke tempat pengambilan kopor. Sepanjang perjalanan, si prajurit sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya secara spontan. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat atraksi yang digelar di hari-hari tertentu di bandara tersebut. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali ia kembali ke sisi sang profesor tampak raut puas dan senyum lebar menghiasi bibirnya.

"Anak muda, bapak sungguh terkesan dengan kebaikan hatimu. Darimana kamu belajar melakukan hal-hal seperti itu?" tanya sang profesor penasaran menyaksikan ulah lincah si prajurit.

"Melakukan apa, Prof?" tanya si prajurit.

"Begitu sibuk memperhatikan dan menolong orang lain. Darimana Anda belajar untuk hidup seperti itu?"

"Oohh, selama masa perang saya kira," jawab si prajurit sambil tiba-tiba mengerutkan kening, seakan mengingat banyak kejadian buruk di masa perang.

Kemudian dia bertutur tetang kisah perjalanan tugasnya selama di medan perang. Saat itu dia ditugaskan untuk ikut serta membersihkan ladang ranjau. Di situ, dia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya tanpa dia bisa berbuat sesuatu apa pun. Sungguh luka hati dan duka yang tidak bisa diterimanya selama ini.


"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah," katanya dengan nada tercekat. "Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan ketika mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah perjudian antara hidup dan mati, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Saya ingin bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi siapa saja selama saya masih diberi waktu oleh kehidupan ini. Karena saya rasakan begitu banyak hal-hal yang masih ingin saya lakukan dan begitu sedikit yang telah saya kerjakan.Sedangkan berkaca dari pengalaman, seakan begitu sedikit waktu dan kesempatan yang tersedia dan masih tersisa..."

Pembaca yang Berbahagia,

Kesadaran akan nilai waktu, kadang dipicu karena pengalaman di kehidupan ini. Saat sebuah kehidupan dimulai, kepastian yang akan datang adalah kematian. Kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi karena itu adalah rahasia Tuhan.

Sebelum semua terlambat dan kata sesal mengikutinya, mari bersama kita manfaatkan waktu yang masih kita punyai untuk melalukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan tentunya bagi banyak orang. Agar di kehidupan ini peranan kita sebagai manusia punya arti positif dan nilai yang hakiki.

Salam sukses, luar biasa!!

Upacara Pernikahan - Chio Thau

oleh : David Kwa


Upacara Chio Thau adalah upacara pernikahan tradisional Peranakan lengkap dengan segala pernak-pernik upacara yang menyertainya. Disebut Chio Thau 上頭―artinya ‘mendandani rambut/kepala’ (to dress the hair), bukan ‘naik ke kepala’―karena, dalam bagian terpenting upacara ini, di atas sebuah tetampah besar warna merah terlukis yin-yang 陰陽 dan menghadap sebuah gantang (dou 斗, tempat menakar beras), pengantin (laki-laki dan perempuan) disisiri oleh ibunya sebanyak tiga kali; setiap sisiran dibarengi dengan doa-doa tertentu: misalnya: sisiran pertama agar si pengantin diberi jodoh yang panjang, sisiran kedua: banyak rejekinya, sisiran ketiga: anak-anaknya semua menjadi orang yang membanggakan, dan sebagainya.



Upacara Chio Thau ini berasal dari daerah Fujian Selatan (Minnan) semasa periode dinasti Qing (1644-1911), dan mungkin sudah tidak diketemukan lagi di Tiongkok, setelah terjadinya dua revolusi besar di sana. Revolusi itu Revolusi Xin Hai 辛亥革 1911, yang menyingkirkan semua produk budaya zaman Qing, dan Revolusi Kebudayaan 文化革 1966-1976, yang menghancurkan semua produk budaya yang dinilai feodalistik dan kapitalistik. Di kalangan Peranakan di Indonesia (Tangerang, Padang dan Makassar) dan juga di Malaysia (Melaka, Pulau Pinang)-Singapura, upacara perkawinan tradisional Chio Thau terselamatkan dari kepunahan, karena kaum Peranakan tidak terlalu terpengaruh oleh segala pergolakan politik yang terjadi di Tiongkok, dan hanya memandang upacara pernikahan tradisional Chio Thau sebagai pusaka budaya warisan kakek-moyang mereka yang harus mereka pertahankan mati-matian sebagai identitas budaya mereka. Sedemikian pentingnya Chio Thau dalam pandangan kaum tradisionalis Peranakan, sehingga kaum Peranakan di beberapa daerah tertentu di Tangerang, misalnya, bahkan sampai memandang pernikahan yang tidak disertai Chio Thau bukan pernikahan yang sah, dan anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan ini pun bukan anak yang sah!!!


Pakaian yang dikenakan saat Chio Thau―yakni baju putih-celana putih bagi laki-laki dan baju putih-kain batik warna dasar merah bermotif bulat-bulat putih, sehingga dikenal dengan nama Kain Onde―akan disimpan baik-baik dan dikenakan kembali pada waktu yang bersangkutan meninggal kelak sebagai pakaian mati.

Kembang goyang adalah beberapa aksesori rambut semacam tusuk konde terbuat dari perak berwarna keemasan bermotif flora dan fauna yang dianggap membawa keberuntungan. Di bagian tertentu kembang goyang diberi per (pegas) hingga bergoyang-goyang saat si pemakai bergerak. Kembang goyang yang khas Jabotabek ini merupakan bukti alulturasi Tionghoa-non Tionghoa, karena di Tiongkok tidak dikenal; pengantin di sana mengenakan hongknua 鳳冠 (phoenix bonnet) saat menikah.

 
Copyright © 2014. BukaBaju Template - Design: Gusti Adnyana