Pesan Produk Sekarang

Sejarah dan Budaya Tangerang "Tempo Doeloe"

Sejarah Dan Budaya Tangerang” Tempo Doeloe” Tangerang merupakan kota yang sangat strategis yang dekat dengan Jakarta, sejarah Tangerang, yang tidak bisa dilepaskan dari empat hal utama yang saling terkait. Keempat hal itu adalah peranan Sungai Cisadane; lokasi Tangerang di tapal batas antara Banten dan Jakarta; status bagian terbesar daerah Tangerang sebagai tanah partikelir dalam jangka waktu lama dan bertemunya beberapa etnis dan budaya dalam masyarakat Tangerang. Sungai Cisadane membujur dari selatan didaerah pegunungan ke utara di daerah pesisir. Sungai ini amat berperan penting dalam kehidupan masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) hingga dewasa ini. Yang berubah hanyalah jenis peranannya. Sejak zaman kerajaan Tarumanegara (abad ke-15) hinggga awal zaman Hindia Belanda (awal abad ke-19), sungai ini berperan sebagai sarana lalu lintas air yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Disamping itu, sungai Cisadane juga menjadi sumber penghidupan manusia yang bermukim di sepanjang DAS ini. Antara lain untuk mengairi areal persawahan dan perikanan di daerah dataran rendah bagian utara Tangerang. Sejarah Tempo Dulu
1. Bendungan Pintu Sepuluh TAK jauh dari lokasi Masjid Pintu 1000, terdapat Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane. Bendungan ini lebih dikenal “Pintu Air Sepuluh”. Sesuai namanya bendung ini memiliki 10 pintu air, masing-masing selebar 10 meter.
2. Jaringan drainase SISTEM jaringan drainase di Kota Tangerang dibagi menjadi dua, yaitu sistem drainase makro/drainase alam, yaitu sungai dan anak-anak sungai yang berfungsi sebagai badan air penerima. Sistem drainase mikro meliputi saluran primer, sekunder, dan tersier dengan total panjang saluran sekitar 192.763 meter
3. Kelenteng Boen San Bio TEMPAT ibadah kelenteng sudah ada di Indonesia sejak 400 tahun sang lalu. Tempat ibadah ini merupakan tempat ibadah tiga agama etnis Tionghoa, yaitu Budha, Khonghucu, dan Tao. Akan tetapi, dalam praktiknya tidak pernah ada fanatisme terhadap salah satu dari tiga agama tersebut. Dengan kata lain, dalam prakteknya ketiga agama tersebut dilakukan bersamaan.
4. Rumah Tua Kapitan Tionghoa RUMAH tua ini sudah berusia lebih kurang 400 tahun. Konon rumah berhantu itu bekas rumah tuan tanah, seorang Kapten Tionghoa (Kapitein der Chineezen) di zaman Belanda. Pangkat kapten dan letnan diberikan Kompeni (pemerintah Belanda) kala itu hanya kepada seseorang dari keluarga terkaya di daerah tertentu dengan kewenangan mengatur secara administratif daerah tersebut. Tugasnya kira-kira sepadan dengan lurah sekarang. Di PeChinan, pengaturan daerah secara admistratif dilakukan oleh sebuah Dewan Tionghoa (Kong Koan) yang beranggotakan kapitein dan letnan. Sejak 1837 dewan ini diketuai seorang mayor yang dibantu kapitein dan letnan. Hanya tiga kota besar yaitu Batavia, Semarang, dan Surabaya yang memiliki Mayor Tionghoa dan mengetuai Kong Koan. Kong Koan berwenang menyelesaikan perkara kecil di antara orang Tionghoa tapi atas nama pemerintah Hindia Belanda dan menyerahkan perkara besar kepada pemerintah
Budaya Tangerang Tempo Dulu
1. Gambang Kromong Kesenian tempo dulu unsur pribumi dengan unsur China dalam dunia musik Betawi, dapat kita lihat dalam orkes gambang kromong, yang tampak pada alat-alat musiknya. Sebagian alat seperti gambang, keromong, kemor, kecrek, gendang, kempul, slukat, gong enam dan gong kecil adalah unsur pribumi, sedangkan sebagian lagi berupa alat musik gesek China yakni kongahyan, tehyan, dan skong. Dalam lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tersebut, rupanya bukan saja terjadi pengadaptasian, bahkan pula pengadopsian lagu-lagu China yang disebut pobin, seperti pobin mano Kongjilok, Bankinhiva, Posilitan, Caicusiu dan sebagainya. Biasanya disajikan secara instrumental. Terbentuknya orkes gambang kromong tidak dapat dilepaskan dari Nie Hu-kong, seorang pemimpin golongan China
2. Peh Chun Nonton Peh Cun di Ka1i Tangerang Sane-sini aeh rame bukan kepalang Bang Mamat dan Mpok Mide ampe lupe pulang… LANTUNAN suara Ida Royani yang diiringi Orkes Gambang Kromong Naga Mustika barusan, mungkin akrab bagi pendengarnya di tahun 70-an. Ketika itu sejumlah radio swasta kerap memutar lagu berjudul “Nonton Peh Cun” ini atas permintaan pendengar. Repertoire lagu berirama gambang kromong seperti ini, sekarang tak pernah lagi diperdengarkan dalam ruang publik kita. Boleh jadi, lantaran kalah pamor dengan genre musik masa kini. Makanya, di kalangan orang Betawi sendiri paling banter hanya orang yang lebih tua yang dapat menceritakan nostalgia meriah pesta Peh Chun seperti yang digambarkan dalam syair lagu gambang kromong tadi. Pesta Peh Chun adalah untuk memperingati l00 hari tahun baru China (Imlek). Tahun Baru Imlek atau yang disebut Sin Tjia oleh masyarakat keturunan China yang berbahasa Hokkian, bermula dari ungkapan rasa gembira para petani di Tiongkok zaman dahulu kala untuk menyambut musim semi (Chun), yaitu saat mereka dapat kembali bekerja kembali di sawah.
3. Tari Cokek TARI cokek adalah tarian khas Tangerang, yang diwarnai budaya etnik China. Tarian ini diiringi orkes gambang kromong ala Betawi dengan penari mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian Cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penari, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat lantaran dalam peragaannya, pria dan wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan. Cokek sendiri merupakan tradisi lokal masyarakat Betawi dan China Benteng, yaitu kelompok etnis China yang nyaris dipinggirkan, dan kini banyak bermukim di Tangerang
4. Tradisi Perkawinan Chiou-Thaou ACARA pernikahan chio-thou diselenggarakan dalam tradisi kuno masyarakat China Benteng. Tradisi per-kawinan chio-thau juga dilakukan oleh warga Tionghoa di Padang dan sekitarnya. Chiou-thau adalah istilah umum bagi suatu upacara pernikahan yang unik dan langka. Secara harfiah, chiou-thau berarti “mendandani rambut” – sebuah ritual pelintasan (rite of passage) yang harus dilaksanakan sebagai pemurnian dan inisiasi memasuki masa dewasa. Upacara ini sangat sakral dan hanya boleh dilakukan sekali seumur hidup sesaat menjelang pernikahan. Seorang duda atau janda yang menikah lagi tidak diperkenankan rnelakukan ritual ini untuk kedua kalinya. Dalam tafsir lain, mereka yang belum menjalani chiou-thau dianggap masih anak-anak
5. Makan 12 mangkuk ACARA selanjutnya adalah bersantap dengan 12 jenis lauk yang masing-masing diletakkan dalam mangkuk porselin. Pengantin wanita didampingi dua orang saudara laki-laki yang belum menikah dan sebaiknya dari shio naga dan macan. Makanan dalam 12 mangkuk itu melambangkan kesinambungan rezeki dalam tiap-tiap bulan selama setahun. Rasa masakan juga berbeda-beda: asin, manis, pahit, tawar, pedas, gurih, berlemak – untuk menyiapkan pengantin bahwa tidak selamanya mereka menghadapi kondisi menyenangkan sepanjang usia pernikahan mereka.
6. Taburan Beras Kuning PENGANTIN laki-laki kemudian pergi menjemput pengantin perempuan di rumahnya. Di masa lalu, ini dilakukan dengan naik tandu. Tetapi, sekarang dilakukan dengan naik mobil. Kedatangan kedua mempelai di rumah pengantin laki-laki disambut dengan gemuruh bunyi petasan. Tradisi ini tampaknya ditiru dalam tradisi pengantin Betawi. Anehnya, ada juga acara tabur beras kuning dan uang logam yang sangat mirip dengan acara pernikahan di berbagai adat Nusantara. Ini sekaligus menunjukkan masuknya adat Sunda ke dalam tradisi chiou-thau.
7. Musik Tanjidor Salah satu bentuk musik rakyat Betawi, tampak jelas pada orkes Tanjidor, yang biasa menggunakan klarinet, trombon, piston, trompet dan sebagainya. Alat-alat musik tiup yang sudah berumur lebih dari satu abad masih banyak digunakan oleh grup-grup Tanjidor. Mungkin bekas alat-alat musik militer pada masa jayanya penguasa kolonial tempo doeloe. Dengan alat-alat setua itu, Tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi perhelatan atau arak-arakan pengantin. Membawakan lagu-lagu barat berirama ‘mars’ dan [Waltz] yang susah sulit dilacak asal-usulnya, karena telah disesuaikan dengan selera dan kemampuan ingatan panjaknya dari generasi ke generasi. Orkes Tanjidor mulai timbul pada abad ke 18. VaIckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada jaman itu tercatat memiliki sebuah rombongan yang terdiri dari 15 orang pemain alat musik tiup, digabungkan dengan pemain gamelan, pesuling China dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta.

Koleksi Produk Lainnya :

Posting Komentar

 
Copyright © 2014. BukaBaju Template - Design: Gusti Adnyana